SELAMAT DATANG DI SITUS PARANORMAL INDONESIA....MENUNTASKAN PROBLEM HIDUP-REZEKI-PERCINTAAN-KESEHATAN-PEKERJAAN-KARIER-KECANTIKAN-DAN SEBAGAINYA. HUBUNGI KONTAK KAMI +6281361228624...

Senin, 26 September 2011

MENCARI PESUGIHAN

Oleh: Ign. Gatot Saksono

Tradisi Ziarah dalam Budaya jawa.
Orang jawa sangat menyukai dan biasa melakukan ziarah, termasuk ziarah pesugihan, meskipun mereka menganut secara formal agama-agama besar seperti Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan lain-lain. Orang jawa juga secara sadar dan tidak sadar adalah pengikut kejawen. Tentu tradisi ini bukan hanya monopoli suku jawa. Suku-suku bangsa yang hidupnya memiliki kemiripan dengan budaya jawa, seperti suku Bali dan Sunda, Bahkan Madura, juga melakukannya.

Pandangan kejawen terhadap Tuhan sangatlah mendalam. Tuhan adalah pencipta, penyebab dari segala kehidupan diseluruh alam semesta. Menurut Koentjaraningrat, sumber utama konsep mengenai Tuhan dari pengikut kejawen adalah Buku Nawaruci. Dalam buku itu Tuhan dilambangkan sebagai makhluk yang sangat kecil. Ia dapat melihat seluruh jagad raya dengan terang benderang. Tuhan dilambangkan dengan wujud makhluk dewa, setiap waktu dapat masuk ke dalam hati sanubari manusia. Tetapi Tuhan juga besar dan luas seperti samudera. Konsep keagamaan Bali-Jawa mengenai Tuhan seperti ini dilambangkan sebagai Dewa Ruci (Kontjara ningrat, 1984).

Konsep mistik Dewa Ruci itu memunculkan dua aliran, yaitu:

1. Pandangan Tuhan yang bersifat panteistis, menganggap Tuhan sebagai yang terbesar, tak terbatatas, dan sebagai keseluruhan alam semesta. Tetapi Tuhan dapat berbentuk kecil sehingga dapat dimilki oleh seseorang.

2. Pandangan Monistis, menganggap Tuhan sebagai maha besar, tetapi berada didalam segala bentuk kehidupan di alam semesta, termasuk manusia, yang hanya merupakan ufuk yang sangat kecil diantara segala hal (Ibid).

Orang jawa mengenal banyak sekali tokoh keramat, di antaranya guru-guru agama, tokoh sejarah, juga tokoh pahlawan dari cerita mitologi yang dikenal melalui pertunjukan wayang. Keyakinan terhadap Wali Songo yang dianggap keramat juga dihidupkan dengan adanya makam-makam yang dianggap keramat (dalam bahasa jawa disebut pepundhen, dan dijadikan tempat ziarah. makam-makam yang ada di Surabaya, Gresik, Tuban, dan Cirebon sampai sekarang masih dihormati, dikunjungi banyak orang dengan beraneka macam permohonan. Disamping itu, nenek moyang atau pendiri masyarakat desa, pemimpin terkenal, seorang dalang, dhukun, dan pemimpin agama, mungkin saja dapat menjadi orang saleh selagi mereka masih hidup. Makam-makan mereka bisa menjadi tempat pemujaan dan permohonan.

Sistem keyakinan kejawen juga mengenal roh-roh yang baik, yang bukan nenek moyang atau kerabat yang telah meninggal, yaitu Dhanyang, Bahurekso, Sing Ngemong, dan Widadari.
Danyang adalah Roh yang menjaga dan mengawasi seluruh masyarakat (desa, dukuh, atau kampung);
Bahurekso adalah penjaga tempat-tempat tertentu, seperti bangunan umum, sumur tua, tempat tertentu dihutan, tikungan sebuah sungai, pohon beringin tua, sebuah goa dan sebagainya;
Sing Ngemong adalah roh yang menjaga kesejahteraan seseorang yang dipandang sebagai saudara kembar dari juwa seseorang;
Widadari dibayangkan oleh orang jawa sebagai gadis cantik yang tempatnya di langit dan yang hanya berbuat baik saja kepada manusia (ibid).

Namun ada juga roh-roh baik yang menuntut balas budi atas pertolongan dan keuntungan yang telah diberikan kepada manusia, misalnya Thuyul. Orang jawa membayangkan sebagai anak kecil atau orang kerdil, yang mampu membuat orang menjadi kaya dengan jalan mencurikan harta kekayaan orang lain bagi dirinya (si pemilik).

Orang dapat memperoleh bantuan thuyul dengan perantaraan seorang dukun sihir, dengan jalan puasa atau bertapa di pephunden tertentu. Tetapi, sebagai imbalan atas jasa mereka, thuyul juga senantiasa minta diperhatikan dengan sajian. Orang yang memelihara thuyul bahkan harus menerima dengan rela jika suatu ketika ia tidak akan hidup lama, atau bahwa ia kelak sebelum atau menjelang mati hidupnya tidak tenang dan tidak damai. Orang jawa yang tiba-tiba menjadi kaya sering dituduh oleh para tetangga memelihara thuyul (ibid hal 338-339).

Franz Magnis-Suseno dalam buku Etika Jawa (1991) mengatakan bahwa Pangeran Mangkunegoro VII membedakan tiga tujuan mengapa tokoh-tokoh dalam wayangan menarik diri ke hutan untuk berziarah, berlaku tapa, dan bersemedi. Pertama, "Kerinduan untuk mencapai pengertian tentang asal usul dirinya". Dengan kata lain untuk menjadi sadar akan sangkan paran.
Kedua, keinginan untuk mencapai " kekuasaan yang tak terkalahkan" dan "menghapus penderitaan akibat ketidakadilan". Orang bersemadi untuk memperoleh kekuatan gaib demi tujuan yang baik atau disebut juga "ilmu putih".
Ketiga, "apabila tokoh itu yang bersemadi itu mempunyai tujuan-tujuan yang kurang luhur dan pamrih". Demi memperoleh tujuan itu ia masuk ke dalam huran Setra-Ganda-Mayu, keratonnya Dewi Durga untuk berziarah. Siapa yang berziarah dengan melakukan semadi dengan cara demikian maka akan dapat mencapai suatu pemenuhan sementara keinginan-keinginannya (Magnis-suseno, 1991, hlm.181).

Laku tapa dan semadi dalam peziarah adalah cara untuk memperoleh kesaktian, menerima kekuatan gaib. Dan kekuatan-kekuatan itu dapat dipergunakan untuk tujuan baik maupun buruk. Kedua kemungkinan itu selalu berada dalam kesadaran.

(Sumber: Buku Mencari Pesugihan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar